25 Januari 2008

Pinjaman

Saat itu saya sedang di rumah ketika saya ditelpon oleh seorang sales salah satu bank asing yang cukup terkemuka di Indonesia.
" Halo", saya membuka pembicaraan
" Halo selamat pagi pak, begini pak, bapak mendapat kesempatan dari bank kami untuk mendapatkan pinjaman tunai sebanyak maksimal tiga kali dari batas limit kartu kredit bapak.", jawabnya.
" Ibu tahu dari mana saya pakai kartu kredit, kartu kredit saya kan dari bank lain", tanya saya.
"Ya kita kan ada link dengan bank lain, data bapak cukup bagus makanya kami menawarkan pinjaman ini", jawabnya
"Gitu ya", jawab saya dengan sedih mengingat tagihan kartu kredit saya yang belum lunas hingga sekarang. Sekali terperosok ke dalam lubang pinjaman maka akan sangat sulit untuk keluar dari sana. Tetapi kok dibilang bagus sih, bukannya ini kondisi buruk bagi keuangan saya sendiri. Bayangkan saja, saya bahkan sudah hampir lupa pinjaman kartu kredit saat itu dipakai untuk keperluan apa, tetapi sampai saat ini surat tagihannya masih terus datang dan berdasarkan data tagihan itu kalau belum juga lunas.
"Halo", saya terperanjak kaget dari lamunan saya
"Iya"
"Jadi gimana,kira-kira bapak tertarik gak dengan tawaran dari kami"
.....
.....
kami berbicara cukup lama karena saya sedang ditawarin jumlah yang cukup besar, siapa tahu ini salah satu solusi bagi kondisi keuangan saya. Namun saya juga tidak sembarangan dalam menerima tawaran tersebut. Pembicaraan itu pun diakhiri tanpa kesepakatan dan sales tersebut berjanji akan menelpon saya kembali sekalian untuk menjelaskan dokumen-dokumen yang diperlukan untuk kelanjutannya.
Saya cukup lega setelah tahu kalau telponnya sudah terputus. Keputusan kembali di tangan saya. Bagi saya sales tersebut cukup hebat, karena bisa mempengaruhi saya untuk mengambil sebuah keputusan yang cukup besar bagi saya. Sekarang logika saya lah yang harus memutuskan, kalau saya perlu meminjam atau tidak.
Berbicara tentang pinjaman, cukup panjang untuk dibahas karena ada orang yang menjadi bangkrut karena kesalahan perhitungan dalam meminjam tetapi ada juga orang yang bisa menjadi pengusaha berkat pinjaman sebagai modalnya.
Saya pernah membaca buku Robert Kiyosaki yang mengajak orang untuk pandai-pandai dalam membuat perhitungan dengan bank. Walapun saya hanya membaca secara sepintas tetapi ada beberapa point yang saya bisa tangkap dari sana. Menurut Kiyosaki bahwa bank-bank kadang melumpuhkan logika kita dan membangkitkan emosi kita dalam menawarkan produknya. Kata ajaib yang sering dilontarkan bank adalah "Cicilan Ringan". Kita hanya difokuskan bahwa tidak akan bermasalah dalam membayar cicilan-cicilan itu. Bahkan kadang kita hanya berpikir kalau cicilan pertama saya bisa saya lunasi, cicilan selanjutnya nanti dipikirkan lagi lah bagaimana caranya. Kita kadang lupa berpikir jauh ke depan, dan hanya berpikir sangat pendek.
Jika sudah begitu maka kita sudah menjadi aset oleh bank itu dan tagihan dari bank menjadi kewajiban kita, yang disebut liabilitas. Jadi pinjaman kita di bank merupakan aset bank tersebut tetapi dipihak kita itu adalah liabilitas. Aset menambah kaya tetapi liabilitas membuat miskin. Tetapi satu hal juga yang kita harus ingat bahwa pinjaman itu juga bisa dijadikan aset. Jadi untuk sementara menjadi liabilitas tetapi kemudian menjadi aset. Contoh kecil jika kita meminjam uang untuk membeli sebuah rumah dan suatu saat rumah itu akan lunas, tetapi rumah itupun bisa kita jadikan aset untuk dikontrakkan. Bagaimana jika rumah itu rusak dan cicilannya juga belum habis? itu juga akan menjadi sebuah perhitungan, namun rumah itu kan beridiri di atas tanah yang harganya terus naik. Makanya banyak orang yang sudah berpengalaman lebih suka membeli tanah untuk investasi. Karena tanah itu tidak akan pernah rusak malah nilainya nambah terus, dibandingkan dengan mobil misalnya makin lama makin menyusut.

 

blogger templates | Make Money Online