05 Mei 2008

Saya tersentak kaget ketika terdengar bunyi praaaaaaak di ruang kerja saya diikuti dengan gelap yang menyelimuti seluruh ruangan.
"Ya, mati lampu", teriak salah seorang staff saya.
"Saklarnya turun pak, di ruang sebelah nyala kok", lanjut seorang staff lain yang kebetulan ada keperluan ke ruangan saya.
"Mati lagi, mati lagi", demikian reaksi spontan dari mulut saya.
Memang sih saya pernah dengar sebelumnya dari tim lain kalau di ruangan itu aliran listrik sering bermasalah. Dan kini kena juga giliran saya. Jam menunjukkan hampir 24.00 saat kejadian tersebut. Hari itu saya sedang tugas malam. Seperti yang saya pernah cerita sebelumnya kalau saya bekerja di bagian Cash Processing Center atau disingkat CPC. (Klik "ATM" dan "Uang Palsu dari ATM")
Untung saja tinggal satu orang staff saya yang sedang melakukan proses perhitungan uang pada saat kejadian tersebut karena memang pada jam-jam segitu perut pada mulai menuntut untuk segera diisi. Jadi sementara sebagian besar tim saya sedang lahap menyantap makan tengah malam saya malah bergulat dengan kondisi mati lampu.
Bayangin aja ! salah seorang staff operator saya tidak bisa disorot oleh kamera sebagaimana standar operasi prosedure di perusahaan bahwa setiap proses perhitungan uang harus melalui proses recording pada saat perhitungan. Oh ya, staff yang melakukan proses perhitungan tersebut di perusahaan saya disebut "kasir". Saya juga bingung waktu pertama kali kerja karena bayangan saya tentang kasir adalah seperti yang bekerja di bank atau supermarket tempat melakukan pembayaran. Kalau di perusahaan tempat saya bekerja yang disebut kasir adalah yang berada duduk tetap pada sebuah meja proses dan melakaukan perhitungan uang dengan mesin hitung.
Setelah saya mencoba menyalakan kembali semua saklar di ruangan tersebut dan ternyata ada satu saklar yang tetap tidak bisa dinyalakan. Artinya ada satu line yang tidak akan bisa mendapatkan aliran listrik. Dan setelah saya cek lebih lanjut ternyata server sistem monitoring berada di jalur tersebut. Dengan begitu seluruh monitor dalam ruangan tersebut tidak bisa menyala karena monitor induk mati !
Habis deh kalau gitu, berarti seluruh ruangan yang mana bisa dipakai oleh delapan orang kasir tidak akan bisa berfungsi. Kelar jam berapa kalau gitu, bisa pulang siang dong. Saya mencoba mencari tahu divisi engineering untuk membantu saya tetapi ternyata menurut informasi dari posko bahwa tidak ada staff engineering yang bertugas malam. Berarti saya tidak bisa berharap kalau aliran listrik yang bermasalah bisa normal kembali malam itu. Saya harus menyelesaikan dulu yang paling mendesak dimana salah seorang kasir saya yang masih menunggu keputusan dari saya, langkah apa yang seharusnya diambil atas tugas yang sedang dikerjakannya.
"Gimana kerjaanmu, udah sampai di mana?", teriak saya pada kasir tersebut.
"Sebenarnya sih udah hitungan ketiga nih pak, tapi pada saat mau selesai perhitungan ketiga lampunya mati", jawabnya dengan nada pasrah. Setiap ada masalah selisih sesuai dengan prosedur maka harus dihitung tiga kali.
"Selisi berapa sih."
"Selisih lebih kok pak."
Syukur deh kalau gitu, untung selisih lebih, bukan selisih kurang. Kalau selisih kurang bisa panjang masalahnya. Saya segera perintahkan untuk melakukan packing terhadap uang tersebut dengan tetap disaksikan oleh saya. Saya juga sadar kalau prosedurenya tidak sempurna. Tetapi saya kan punya alasan jika suatu saat hal ini dipermasalahkan. Demikian saya menghibur diri sendiri. Yang penting adalah pekerjaan saya harus selesai sebelum jam 07.00 pagi agar customer tidak teriak.
Ok, masalah yang satu selesai. Tetapi bukankah masalah yang lain juga masih panjang. Saya sudah mulai merasa bahwa saya tidak akan mendapat waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekejaan ini.
"Jadi satu ruangan itu tidak bisa dipakai sama sekali?", tanya atasan saya setelah saya menceritakan masalah yang saya hadapi lewat ponsel. Kasihan juga pikir saya, pas lagi jam enak-enaknya tidur saya ganggu.
"Iya pak, padahal perkerjaan masih banyak banget", jawab saya dengan sedikit rasa lega kayak mendapat teman curhat.
"Begini, di ruangan depan kamu itu kan masih ada kamera yang masih berfungsi tetapi tidak ada meja, kamu tinggal ambil meja yang tidak terpakai ditaruh di situ. Lumayan kan kalau itu bisa berfungsi", jawab atasan saya. Ternyata atasan saya tidak sepanik saya dan tetap bisa berpikir dalam kondisi apapun. Dan ternyata idenya oke juga tuh menurut saya. Memang sih sejauh yang saya kenal atasan saya seorang pemberi solusi jitu dalam setiap persoalan yang sering kami hadapi.
"Bisa pak, nanti saya coba mudah-mudahan berhasil. Kalau begitu saya lanjut kerja dulu pak. maaf menganggu. Terima kasih." jawab saya sambil menutup telpon dan buru-buru melakukan apa yang diperintahkan oleh atasan saya. Apalagi saya yakin hal ini bisa menjadi solusi.
Saya keluar buru-buru makan dan ternyata di luar tim saya sudah pada tahu kalau ada satu ruangan yang mati lampu. Cepat nyebar juga beritanya, pikir saya.
"Pak, kita pulang aja, kan mati lampu, nanti tim pagi aja yang kerjain", canda seorang kasir saya yang di ruang istirahat.
"Enak aja, kamu yang harus pulang siang", jawab saya. Saya juga tahu kalau dia tidak serius dengan ucapannya. Mana berani dia pulang, pikir saya dalam hati.
"Trus gimana dong pak, mau proses di mana", lanjutnya enteng.
"Pokoknya beres. Kamu tinggal lanjut aja kerjanya. Kita harus kelar sebelum tujuh pagi atau kamu mau pulang siang ?. Meja sudah saya siapkan di ruang depan office. Di situ kan ada kamera. Pokonya kamu tinggal pindahkan mesin hitung ke situ aja", jawab saya.
Jam enam pagi saya mendapat telpon dari atasan saya.
"Gimana kerjaannya, masih banyak?", tanya dia
"Udah pak", jawab saya
" Jadi yang belum apanya lagi"
" Udah pak, udah kelar semua, ini tinggal beres-beres", jawab saya sok tenang padahal sebenarnya hati saya sedang berteriak "beres booooooooooossssssss!!!!".
"Oke, makasih ya, selamat pagi"
Sebuah perjuangan yang walaupun hanya semalam tetapi lumayan juga. Dan memang begitulah. Bekerja tidak hanya mencari uang, tetapi bekerja adalah belajar menghadapi dan menyelesaikan masalah. Dan saya yakin pengalaman dalam pekerjaan akan sangat berguna juga dalam kehidupan kita yang lain.

28 April 2008

Kisah ini terjadi sekitar dua tahun silam. Pada saat saya turun dari bis kota di daerah Jalan Baru, dekat Terminal Kampung Rambutan dengan maksud tujuan ke arah Cileungsi. Oh ya mungkin ada pembaca yang belum tahu persis di mana Jalan Baru itu. Jalan Baru adalah terminal bayangan dari Kampung Rambutan yang cukup ramai. Banyak sekali penumpang yang akan bepergian memilih Jalan Baru sebagai tempat untuk mencari angkutan umum ke tujuan perjalanan mereka. Hal ini disebabkan karena semua angkutan umum baik angkutan dalam kota maupun luar kota dari arah terminal Kampung Rambutan pasti melewati Jalan Baru. Penulis sendiri minta maaf karena kurang tahu juga Jalan Baru ini nama jalan atau hanya nama tempat. Yang jelas nama Jalan Baru ini sama terkenalnya dengan terminal Kampung Rambutan. Bahkan banyak bus angkutan dalam dan luar kota yang tidak masuk lagi ke dalam terminal Kampung Rambutan. Dan hanya sampai di Jalan Baru
Oke, cerita ini dimulai di Jalan Baru tersebut. Di tempat ini memang banyak ngetem angkot carry warna biru ( kode 121) rute Kampung Rambutan - Cileungsi. Ini salah satu contoh yang saya maksud tadi kalau angkot rute Rambutan - Cileungsi ngetemnya di Jalan Baru tersebut.
Saya sendiri kerja di jalan Gajah Mada Jakarta dan tinggal di Jalan Transyogi (Kadang juga disebut Alternatif). Angkot 121 melewati sebagian jalur Tol Jagorawi dan keluar di Pintu Tol Cibubur melewati Jalan Transyogi menuju Cileungsi.
Pada saat saya naik angkot 121 tersebut tinggal satu tempat yang kosong paling luar dekat pintu membelakangi sopir, yang mana hanya merupakan tempat duduk tambahan yang biasanya bisa muat dua orang. Pada saat saya naik ada seorang ibu yang duduk dengan saya di tempat duduk tambahan tersebut sama-sama dengan saya membelakangi sopir. Dari pakaiannya terlihat jelas bahwa ibu tersebut adalah seorang pegawai kantoran yang sedang pulang kerja karena memang kebetulan jam tersebut adalah jam pulang kantor.
Saya hanya sepintas merasakan dan hampir gak perduli kalau ibu tersebut sedang sibuk dengan seorang perempuan muda yang juga berpakaian kerja berpenampilan tenang dan tampak berpendidikan dengan baju seragam yang berbeda dengan ibu itu. Perempuan muda tersebut duduk di pojok tepat di belakang sopir. Mereka berdua sepertinya sangat sibuk sambil membuka-buka tas perempuan muda itu. Di pikiran saya mungkin mereka teman kerja atau keluarga atau siapa sajalah, pokoknya saya gak perduli aja. Namun tiba-tiba saya kaget setelah menangkap salah satu kalimat ibu tersebut kepada perempuan muda tadi.
"Tangan anda tadi belum masuk ke tas jadi gak mungkin ada di tas", kata ibu itu dengan suara sedikit lantang.
Saya pun mulai melirik mereka berdua karena sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi di antara mereka berdua.
"Ibu, saya ini orang kerja bu, gak mungkin saya macam-macam", jawab perempuan muda itu tetap tenang dan lembut kepada ibu itu.
"Gak, saya yakin masih ada di sekitar sini, dan bukan di dalam tas kamu", jawab ibu tersebut tambah lantang.
Seiring dengan itu angkot 121 mulai meninggalkan Jalan Baru melewati jalan layang untuk masuk ke jalur tol Jagorawi. Saya tidak bisa lagi mendengar suara mereka berdua karena kencangnya angin di telinga saya setelah angkot mulai memasuki jalan tol. Namun sayup-sayup terdengar kalau mereka berdua bahkan sudah mulai aduh mulut. Penumpang lain yang dari tadi tidak mau ikut campur mulai pada bertanya pada ibu tersebut. Dalam karena kondisi yang agak meresahkan tersebut, sang sopir memenuhi permintaan sebagian besar penumpang agar mobil diberhentikan sebentar
"Ada apa ibu", tanya seorang bapak dengan bijak untuk mencari tahu persoalannya.
"Saya yakin uang saya diambil sama dia", jawab ibu itu dengan nada yang semakin tinggi.
"Tapi mana buktinya bu, uang itu gak ada sama saya, saya kan malu kalau diperlakukan seperti ini", jawab perempuan muda itu seperti hampir menangis. Saya sendiri kasihan melihat perempuan muda tersebut diperlakukan dengan kasar oleh ibu galak itu. Kok bisa-bisanya ibu itu menuduh sembarangan ya. Gumam saya dalam hati.
"Coba cari dulu baik-baik", kata penumpang yang lainnya.
"Gini deh, kamu berdiri aja dulu", kata ibu itu kepada perempuan muda tadi seperti baru mendapat ide yang sangat segar.
Gadis itupun berdiri perlahan-lahan dan secepat kilat tangan ibu tersebut mengambil uang pecahan 100.000 berwarna merah dalam kondisi sudah terlipat-lipat di bawah pantat gadis tersebut.
"Ini uang saya, kurang seratus ribu", katanya hampir berteriak sambil memegang empat lembar uang pecahan 100.000 karena merasa berhasil.
"Itu uang saya bu", kata gadis itu memberikan pembelaan dirinya yang terakhir dengan tetap menjaga kelembutan suaranya, namun siapa yang bisa percaya kalau uangnya sendiri kok harus diduduki dan kenapa tidak ditaruh di tas atau dompetnya sendiri.
"Nah, kamu pencurinya", teriak seorang penumpang sambil menunjukkan jarinya diikuti oleh penumpang lain mengarah kepada perempuan muda tersebut.
"Turun kamu, ayoo turun", kata penumpang seperti hampir sepakat untuk menurunkannya sambil memeriksa kantong-kantongnya karena menurut ibu tersebut masih kurang satu lembar lagi. Tetapi ibu tersebut sudah puas walaupun masih harus kehilangan 100.000. Gadis itupun diturunkan di jalan tol Jagorawi.
"Masih ada uang saya sama kamu seratus ribu", teriak ibu tersebut dari atas angkot kepada gadis itu yang sudah berdiri di pinggir jalan tol. Namun sepertinya ibu tersebut sudah puas walapun harus kehilangan Rp 100.000 dan dengan wajah tampak lega meminta sopir untuk jalan lagi.
"Makasih ya semuanya karena sudah pada bantu saya", katanya kepada semua penumpang dengan senyum ketika angkot sudah jalan kembali.
Galaknya seperti hilang lenyap, dan pencuri itupun ditinggal sendirian di pinggiran jalan tol.
Angkot melaju dengan normal kembali dan gadis itupun menjadi bahan pembicaraan oleh semua penumpang sampai angkot pun mulai keluar di pintu tol Cibubur. Ibu yang kecurian itupun menceritakan kalau sebenarnya dia merasakan tangan gadis itu masuk ke kantong bajunya. Hal itulah yang membuatnya begitu yakin kalau pencuri uangnya adalah perempuan muda itu. Semua pada keheranan dan seperti tidak percaya akan kejadian yang baru saja mereka saksikan. Seorang perempuan muda berpenampilan rapi kayak orang kerja, sopan, tenang dan kelihatan pintar ternyata adalah seorang pencuri.

02 April 2008

Melakukan perjalanan dengan menggunakan Busway ada suka dukanya. Sebagai sebuah sistem transportasi baru dan pertama di Indonesia, busway adalah sebuah keunikan. Kehadirannya dalam sistem transportasi di Jakarta yang sangat padat menjadi perhatian masyarakat. Tidak hanya oleh masyarakat pengguna busway itu sendiri melainkan juga oleh masyarakat yang memakai kendaraan pribadi baik roda dua ataupun roda empat.

Menjadi pusat perhatian masyarakat pengguna kendaraan pribadi karena busway telah mengambil sebagian lebar jalan dengan menggunakan separator. Bagian jalan yang dipakai oleh jalur busway antara 25%-50% lebar jalan. Dengan demikian bisa diperhitungkan berapa persen tingkat kemacetan yang disebabkan oleh penyempitan jalan demi untuk jalur busway. Bus transjakarta menjadi raja jalanan di mana bisa melaju dengan mulus di sela-sela kemacetan Jakarta yang semakin parah.

Tujuan daripada busway sendiri memang adalah untuk mengurangi pengguna kendaraan pribadi. Jika pemakai kendaraan pribadi semakin tidak nyaman karena kondisi jalur biasa yang bertambah macet maka perlahan-lahan tujuan dari pengadaan busway akan perlahan-lahan memberi titik cerah. Mungkin para pengguna kendaraan pribadi mulai melirik si raja jalanan ini.

Namun benarkah akan terjadi peralihan para pengguna kendaraan pribadi menjadi penumpang transjakarta ? Sesuatu hal yang begitu sulit untuk diprediksi karena terlalu banyak faktor lain yang menjadi penyebabnya. Sekiranya busway yang merupakan sistem transportasi yang dijiplak dari negara maju itu dijalankan dengan dengan benar mungkin hal itu akan terjadi. Sistemnya sudah benar. Namun jika sistem itu dijalankan oleh yang tidak benar maka tidak akan ada peralihan itu.

Kondisi pelayanan busway saat ini mengundang banyak cerita di kalangan pengguna busway yang memang cukup banyak saat ini. Jika kita sempat transit di halte Harmoni pada jam pulang kantor maka akan terlihat betapa padatnya halte tersebut. Bahkan untuk jalan saja kadang sangat sempit. Kondisi ini adalah indikator bahwa dalam jalur lalulintas busway sendiri terjadi ketidaklancaran, bahkan bisa dibilang kemacetan dalam jalur busway sendiri. Kemacetan yang saya maksud adalah kemacetan antara sesama bus transjakarta sendiri di mana terjadi penumpukan bus pada jalur yang tidak terlalu padat penumpang namun keberadaan bus sangat sedikit pada titik di mana penumpang sedang bertumpuk. Kemacetan yang lain yaitu kemacetan yang terjadi antara para penumpang di setiap halte halte yang sangat ramai. Seperti halte Harmoni misalnya, walapun sudah dirancang cukup luas namun tetap saja penuh.

Terus bagaimana dengan halte yang kecil tetapi cukup ramai karena letaknya yang strategis seperti di halte Senen. Di halte ini pada jam-jam sibuk terjadi penumpukan penumpang yang jelas bisa menghambat naik turunnya penumpang ke bus transjakarta. Kedatangan bus di setiap halte pun sangat membuat tidak nyaman para penumpang. Pada saat penumpang semakin bertambah di setiap halte namun tidak diimbangi oleh jumlah kedatangan bus maka akan terjadi penumpukan yang bisa membuat penumpang harus berdiri cukup lama dalam kondisi kepanasan dan kesempitan. Dan pada saat bus yang ditunggu-tunggu muncul maka penumpang yang sudah lelah berdiri akan berusaha sebisa mungkin agar bisa masuk ke dalam bus untuk menghemat tenaga yang masih tersisa setelah seharian bekerja.

Para satgas dan petugas transjakarta lainnya pun tidak akan segan-segan untuk berteriak menegur dengan keras para penumpang yang berjuang untuk mendapatkan tempat di dalam bus.

"Ah, yang penting saya bisa naik deh", gumam saya dalam hati walapun para petugas sudah berteriak dengan sangat keras agar penumpang tertib. Memang kondisinya sangat memprihatinkan melihat penumpang yang berdesak-desakan berebut tempat biarpun hanya untuk beridiri di dalam busway. Kondisi ini seperti memberi kesan bahwa para penumpang busway itu tidak tahu sopan santun dan tata tertib. Namun jika sekiranya setiap penumpang ditanya kenapa harus berdesak-desakan maka sebagian besar akan menjawab bahwa mereka sudah sangat lelah berdiri dalam kondisi kepanasan di halte.

Pada setiap halte pun jika diperhatiakan maka sebenarnya tidak ada pengaturan antrian yang benar dari para pihak Transjakarta sendiri. Lebar barisan penumpang yang antri jauh lebih besar dari lebar pintu di mana penumpang akan naik. Maka pada saat bus transjakarta tiba maka barisan antrian itu akan kesulitan untuk masuk ke dalam pintu yang lebih sempit sehingga kondisi penumpang yang berdesak-desakan tidak bisa dihindari. Bahkan pada setiap halte-halte tertentu pun tidak ditentukan jalur untuk naik ataupun turun. Sehingga penumpang yang akan turun pun akan kesulitan untuk bisa menembus kerumunan penumpang yang akan naik.

Penulis memperhatikan penumpang yang sudah berusia agak lanjut sangat kelelahan dan bahkan cukup kasihan melihat mereka. Kehadiran busway juga telah mematikan beberapa rute bus kota. Jadi walaupun pada satu sisi busway seperti kesulitan untuk menarik pengguna kendaraan pribadi, di sisi lain ada juga banyak masyarakat yang hanya karena terpaksa harus menjadi penumpang busway

Armada busway yang minim malah menambah persoalan karena jalur busway dibiarkan kosong dalam rentang waktu yang cukup lama. Mubazir !

Dalam jalur biasa para pengguna kendaraan pribadi menderita dalam kemacetan. Di halte busway juga para penumpang juga dalam kondisi "macet" berdiri kelelahan. Namun ada jalur jalan yang sedang dibiarkan kosong karena si raja jalanan tak kunjung datang.

Jadi walapun sistemnya bagus tetapi kita sendiri tidak bisa memakainya maka akan merugikan kita sendiri.

Next Stop ! Halte "Antrian Panjang"


25 Maret 2008

Mungkin halte bis yang paling terkenal di Jakarta adalah Halte Komdak. Walaupun kita tahu kalau halte-halte yang ada di Jakarta yang telah dilewati oleh jalur busway terkesan lebih keren karena setiap dilewati oleh bus transjakarta maka nama halte tersebut akan terdengar lewat rekaman suara perempuan otomatis dari speaker di dalam bus dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, di mana sebelumnya nama halte tersebut hanya terdengar lewat teriakan kasar kondektur metromini atau kopaja dan sejenisnya.
Nah, salah satu halte yang hingga tulisan ini diposting yaitu Halte Komdak belum dilewati oleh jalur busway namun sudah sangat terkenal dari dulu karena memang terletak di posisi yang sangat strategis. Halte Komdak berada di persimpangan jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Gatot. Bahkan salah satu Plaza yang terletak di belakang Halte Komdak yakni Plaza Semanggi menyebut dirinya sebagai "The Best Meeting Point".
Penulis sediri kurang tahu apakah akan ada halte busway yang bernama komdak jika rencana jalur busway Pluit - Pinang Ranti benar-benar terwujud. Jalur Pluit - Pinang Ranti sendiri akan melewati salah satu jalur yang sangat ramai di Jakarta yaitu Jalan Gatot Subroto. Mungkin karena melewati jalur yang sangat rumit inilah yang membuat jalur busway belum rampumg juga. Yang jelas bahwa rencana jalur ini akan melewati Halte Komdak.
Nah, beberapa hari yang lalu penulis lewat di Halte ini dan rasanya pengen banget mengisi perut yang sedang kosong. Setelah mencari-cari akhirnya ketemu juga salah satu warung kopi di sekitar halte tersebut. Pemilik warung tersebut buru-buru beres-beres waktu saya bermaksud singgah di warungnya.
"Masuk aja pak, sabar tunggu sebentar ya", kata bapak si pemilik warung dengan sangat terburu-buru ke arah belakang.
"Ok, gak apa-apa kok", jawab saya.
"Maaf ya soalnya saya baru nyampe, tuh sepeda saya aja belum diturunin muatannya", dia membuka kembali percakapan setelah kembali dari belakang.
"Emang bapak tinggal di mana", tanya saya.
"Saya tinggal di Jatibening"
"Jatibening Bekasi maksud bapak, jadi bapak naik sepeda dari sana?"
"Iya, yang dekat Pondok Gede itu",jawabnya
"Naik sepeda dari Jatibening ke Komdak?"
"Iya, saya sudah 12 tahun naik sepeda terus"
"Kuat juga ya pak, emang umur bapak sekarang berapa?",tanya saya mulai penasaran
"Sudah hampir 50", jawabnya sambil tersenyum.
Bayangkan saja, umur sudah hampir 50 tahun tetapi tampangnya seperti umur 30-an. Saya sendiri kurang tahu berapa kilometer Jatibening Komdak tetapi jarak tersebut cukup jauh dan bapak itu bisa menempuh pulang pergi perjalanan setiap hari dengan naik sepeda.
"Abis kalau mau kos di daerah sini mahal-mahal", jawabnya melanjutkan percakapan.
"Kalau di Jatibening sudah rumah sendiri ya?", tanya saya.
"Alhamdulillah iya, saya beli tanah di daerah situ sekitar tahun 90-an dengan harga 50.000 per meter", jawabnya sambil seperti sambil mengenang perjuangan hidupnya sendiri.
"Kalau sekarang harga tanah per meter di sana udah berapa pak", tanya saya.
"Sekarang ma udah 300-an kali", jawabnya.
Percakapan kami berlangsung cukup lama dan saya merasa konyol sendiri dengan kehebatan dia. Dengan mengandalkan hasil dari membuka warung si pinggir-pinggir jalan bapak tersebut telah memiliki sebidang tanah dengan rumah di atasnya. Hebat banget pikir saya. Dia tidak perlu ongkos untuk transportasi, tidak perlu membayar sewa rumah, tidak perlu membayar cicilan rumah, apalagi kartu kredit. Di mana biaya-biaya seperti inilah yang begitu banyak menghabiskan gaji sebagaian besar masyarakat Jakarta.
Sebuah obrolan yang memberi pelajaran yang sangat berharga.

21 Maret 2008

Malam menjelang sepulang kerja saya mendapat sms lewat nomor GSM dari kakak saya yang kesulitan menghubungi saya ke nomor CDMA. Tadi pagi sayang memang malas membawa dua ponsel, ribet banget pikir saya. Cukup pakai GSM saja.
Ah, paling konfirmasi tentang keberangkatan besok ke Bandung untuk acara resepsi pernikahan keponakan kami, pikir saya. Kami memang telah merencanakan untuk berangkat dari Jakarta subuh-subuh karena pengen juga menghadiri pemberkatan nikah di Gereja.
" Begini, ternyata semua pada jadi pergi besok, jadi mobil saya udah gak muat", kata kakak saya dengan nada sedikit agak menyesal. Memang hal ini sudah kami rencanakan dari awal untuk berangkat bersama-sama. Dan sebagi gantinya dia menawarkan saya untuk menumpang mobil saudara sepupu.
" Ok, gak apa-apa", jawab saya walaupun saya sendiri masih ragu untuk menumpang mobil sepupu saya. Saya betul betul gak enak sama sepupu saya yang satu ini karena jauh sebelumnya dia sering mengajak main-main ke rumahnya tetapi saya tidak pernah pernah datang. Saya berada dalam keraguan dan tanpa terasa waktu sudah hampir menunjukkan jam 10 malam. Gimana ya? Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya.
Sudah mulai timbul keraguan saya untuk ikut ke Bandung, tetapi akan lebih tidak enak lagi kalau saya gak datang. Pikir saya. Apalagi Ayah dari yang menikah, yakni kakak saya adalah seorang yang sudah sangat berjasa dalam keluarga kami. Dia adalah putra tertua dari keluarga besar saya yang sudah sangat banyak membantu keluarga kami. Kalau gak datang saya benar-benar gak tahu diri. Apalagi kami saudaranya yang tinggal di Jakarta lah yang sangat diharapkan untuk datang. Saudara-saudara saya yang ada di Sulawesi sana beserta papa dan mama saya sudah memberi kabar kalau mereka tidak bisa datang.
"Aduh, jam berapa nih", saya melihat jam sudah menunjukkan jam 10 malam lewat. Mungkin saudara sepupu saya sudah tertidur dan abis deh kalau udah begini. Tetapi apa boleh buat. Dengan perasaan yang sangat tidak enak terpaksa saya harus menelpon sepupu saya. Dan benar, telponnya tidak di angkat.
Untung malam itu saya bisa tertidur dalam kondisi tanpa sebuah kepastian. Pagi masih buta ketika terbangun saya putuskan untuk naik bis sendiri ke Bandung.
Saya sendiri sudah enam tahun di Jakarta tetapi belum pernah ke Bandung. Sering mendengar komentar dari teman kerja saya tentang Bandung tetapi kenapa ya saya tidak begitu tertarik. Setelah mendapat persetujuan dari kakak saya untuk naik bis sendiri saya langsung jalan dari tempat tinggal saya di daerah Glodok. Soalnya saya juga kuatir kalau tiba di terminal Bandung saya gak tahu jalan ke mana. Dengan acc dari mereka berarti mereka juga siap jemput saya di terminal.
Tiba-tiba ada telpon dari kakak saya.
"Halo", jawab saya
"Eh, jangan salah naik ya", jawabnya
"Salah naik gimana"
"Kamu harus lewat Cipularang, kalau lewat puncak kelamaan, Cipularang itu yang lewat tol dua jam juga bisa nyampe", kakak saya tahu benar kalau saya gak ngerti jalan ke Bandung.
Bayangin aja saya waktu itu bahkan belum tahu kalau untuk lewat tol Cipularang itu ngambil arah ke Karawang dulu. Sampai aku sempat tanya sama teman ku nunggunya di depan UKI atau seberangnya. Dan teman saya menyarankan untuk menunggu bis Bandung di persimpangan ke arah Bekasi.
Dan betul, setelah sampai di UKI saya sudah melihat sebuah bis jurusan Bandung sedang mencari penumpang. Dan di depannya tertulis "lewat tol Cipularang". Lega rasanya. Satu persoalan selesai. Jika selamat dalam perjalanan berarti dua jam lagi sampai di Bandung.
Wow sebuah pemandangan yang asyik juga, ternyata jalan ke Bandung banyak tanjakan panjang. Dan kalau saya mengalihkan pandangan ke luar jendela rasanya teduh banget. Pemandangan yang sangat menyejukkan menemani sepanjang perjalanan sampai bis yang saya tumpangi pun memasuki terminal di Bandung sekitar jam 8.30
Saya menelpon kakak saya untuk menanyakan posisi mereka dan ternyata belum sampai.
" Kalau kamu mau jalan sendiri ke rumah pengantin juga gak apa-apa. Tanya aja pada orang di situ", demikian saran kakak saya setelah memberi tahu alamat yang dituju.
Acara pemberkatan nikah di gereja berlangsung dari jam 10 pagi sampai sekitar jam 11.30. Sedangkan acara resepsi dimulai jam tujuh malam. Setelah acara pemberkatan nikah sambil menunggu resepsi, sepupu saya mengajak jalan-jalan di seputar Bandung. Sepupu saya sendiri gak ngerti jalan -jalan di Bandung dan selalu dipandu lewat ponsel oleh teman-teman yang lain. Jalan di Bandung susah karena kebanyakan satu arah. Kami jalan-jalan ke Factory Outlet yang sangat unik. Modelnya benar-benar seperti rumah. Kalau mau naik di bagian lantai dua bukan pakai escalator atau tangga tembok tetapi tangga kayu. Serta design interiornya benar-benar seperti rumah sehingga berbelanja juga sangat asyik.
Kami sempat juga menghabiskan waktu di Cafe depan salah satu factory outlet sambil menikmati hidangan ringan khas Bandung.
Acara resepsi selesai jam 8 malam dan saya kami pulang ke Jakarta jam 8.30. Jadi saya berada di Bandung kira-kira dua belas jam dan masih penasaran dengan Bandung. Mudah-mudahan ada waktu lagi main sampai puas di sana.

19 Maret 2008

Waktu menunjukkan sekitar pukul 19.30 ketika saya sedang duduk dengan santai di depan Lindeteves Trade Centre (LTC) , sebuah shopping mall di kawasan Glodok yang belum terlalu lama dioperasikan. Enak sekali rasanya melepas kepenatan dari kerja seharian. Tepat sekali tempat duduk untuk santai ini dibangun, pikir saya. LTC ini sendiri terletak di Jalan Hayam Wuruk dan berdiri megah di samping Harco Glodok. Harco Glodok sendiri adalah sebuah pusat penjualan spare part yang sangat terkenal dan sudah berdiri cukup lama.
Penulis sendiri kurang tahu kapan Harco Glodok ini dibangun namun dari arsitektur bangunannya masih merupakan gaya lama.
Di depan saya, tepatnya di seberang jalan berdiri apartemen Starcity yang sedang dipasarkan. Yang unik dari apartemen ini adalah di lobinya berdiri sebuah Klenteng. Klenteng tersebut dibangun tidak bersamaan dengan apartemen tersebut tetapi merupakan Klenteng yang sudah lama ada sebelum apartemen Starcity sendiri dibangun.
" Gak boleh dirusak, itukan sudah menjadi cagar budaya", komentar teman saya saat sedang makan ramai-ramai di warung sekitar lokasi tersebut.
Kombinasi klenteng tua dengan hunian modern tersebut menjadikannya sebuah apartemen yang sangat unik.
Dari tempat duduk yang sama jika saya mengalihkan pandangan ke arah selatan akan nampak beberapa gedung bertingkat seperti Hotel Jayakarta, Hotel Mercure dan Apartemen Mediterania Gajah Mada. Apartemen Meditenia Gajah Mada sendiri cukup ramai, tepat di depan Halte Busway Olimo.
Jika saya mengalihkan pandangan ke arah utara maka akan terlihat Pusat Perbelanjaan Glodok. Di seberang Harco Glodok sendiri atau tepatnya di depan Halte Busway Glodok sedang dibangun sebuah gedung yang saya sendiri tidak tahu persis nantinya gedung tersebut untuk apa. Yang saya ingat sebelum pembangunannya ada tertulis nama tempat tersebut yaitu Galeria Glodok. Dari namanya pun terlihat kalau tempat tersebut juga ujung-ujungnya adalah tempat untuk berbelanja.
Memang kawasan Glodok ini sangat ramai. Jika kita mencoba masuk ke dalam kompleks pertokoan Glodok maka kita juga akan menemukan Orion Plaza, Plaza Pinangsia, Glodok Plaza, Glodok Jaya dan ... apalagi ya. Saya sendiri kurang ingat persis semua yang ada di kawasan Glodok tersebut.
Yang saya tahu adalah bahwa kawasan ini sangat dinamis. Sangat padat baik oleh penjual maupun oleh pembeli. Glodok memang sangat terkenal dengan barang elektroniknya.
Walapun ada pandangan miring sebagian orang tentang Glodok. Waktu saya tanpa sengaja bertemu dengan teman kerja saya di tempat tersebut, dia bertanya sambil tertawa karena menurutnya kawasan Glodok adalah tempat untuk membeli vcd porno.
Hal tersebut juga memang benar. VCD porno tersebut dijual di sekitar jembatan Glodok tepat di pinggir jalan kawasan Glodok. Kesan saya yang pertama tentang Glodok juga seperti itu. Awalnya saya tidak menyadari kalau ada tempat yang jauh lebih luas jika kita masuk ke dalam kawsan Glodok karena di saat kita turun dari mobil kita akan disambut dengan para penjual VCD porno yang memang mengambil posisi di pinggir jalan kawasan Glodok.
Penodaan terhadap kawasan Glodok ini berlangsung sudah cukup lama dan terus berlanjut hingga tulisan ini diposting.
Jadi pembaca kalau mau belanja ke Glodok jangan kaget dengan kehadiran para penjual VCD porno tersebut. Itu sudah lama berlangsung dan masuklah ke dalamnya dan anda akan menemukan barang-barang yang anda cari dengan harga yang murah meriah. Mulai dari TV, DVD Player, Kulkas, Sound System, Pusat Komputer, Mur dan Baut, Spare Part, Lighting dan masih banyak lagi.

 

blogger templates | Make Money Online